I JUST WANT PLAY LIKE A CHILD

Ojo (12) is the son of a sand miner who helps his parents work in the river every day. Behind his tired little body, Ojo has one simple wish: to be like the other children in the neighboring village—playing freely without the burden of work. However, in his neighborhood, working in the sand mine has become part of the lives of children his age. Then, Ojo's meeting with Steven (12), the son of a swallow's nest entrepreneur, becomes a small hope for Ojo to experience a normal life like other children. Steven invites him to play by the river, and for the first time after years of working, Ojo again feels the happiness of being a child. Until one day, that happiness turns into tragedy. While Ojo is relaxing, his father, who is mining sand alone, is swept away by the sudden strong river current and is declared missing.

  • Dinul Yakin
    Director
  • Dinul Yakin
    Writer
  • Abraham Abdiel Arya Putra Yudianto
    Producer
  • Project Type:
    Short
  • Genres:
    Drama, Coming Of Age, Slice Of Life
  • Runtime:
    18 minutes 22 seconds
  • Country of Filming:
    Indonesia
  • Language:
    Indonesian
  • Film Color:
    Color
  • First-time Filmmaker:
    No
  • Student Project:
    No
  • Digital Cinema Package:
    Unavailable
Director Biography - Dinul Yakin

Seorang sutradara film independen asal Sigi yang berfokus pada isu-isu internal di wilayah lembah , khususnya di wilayah Sigi. Belajar secara mandiri melalui berbagai workshop dan pengalaman praktik dalam pembuatan film. Selain berkarya, juga aktif dalam mendukung komunitas film alternatif dengan mendirikan Bioskop Todea, sebuah ruang pemutaran independen di Palu dan Sigi. Bioskop ini bertujuan untuk memberikan wadah bagi para pembuat film independen agar dapat menayangkan karya mereka secara bebas dan menjangkau lebih banyak penonton.

Add Director Biography
Director Statement

Sudah menjadi rahasia umum bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu di desa saya, khususnya di dusun tempat saya tinggal, mencari uang dengan bekerja kasar. Salah satunya adalah menjadi penambang pasir di sungai. Bahkan, pekerjaan itu seakan menjadi tahap awal sebelum mereka nantinya bekerja di tambang batu di kawasan industri Poboya. Kondisi ini membuat banyak anak kehilangan masa kecilnya karena harus membantu ekonomi keluarga sejak usia dini.Film ini terasa sangat dekat dengan saya karena saya pernah menjadi bagian dari kehidupan itu. Bukan karena saya tidak mampu, tetapi karena jika saya tidak ikut melakukan pekerjaan tersebut, saya merasa tidak akan memiliki teman. Pekerjaan itu seperti menjadi syarat agar saya bisa diterima dalam lingkungan pertemanan mereka. Saya juga pernah menjadi anggota Forum Anak, dan di sana saya belajar bahwa setiap anak memiliki hak untuk bermain dan menikmati masa kecilnya. Dari situlah kegelisahan film ini muncul.Melalui cerita ini, saya ingin menggambarkan dilema anak-anak yang berada di antara tanggung jawab dan masa kecil mereka. Ada anak-anak yang bermimpi hidup seperti teman-teman seusianya—bermain dengan bebas dan merasakan masa kecil sepenuhnya—namun keadaan memaksa mereka bekerja demi membantu keluarga.